Kasus 1 – Sales: Andi tidak di-follow-up di pipeline
Situasi:
Opportunity Implementasi Odoo ERP – PT Sinar Jaya Abadi sudah masuk ke stage Qualified. Contact person adalah Andi Setiawan (Procurement Manager). Namun, Sales Executive tidak melakukan follow-up secara rutin.Dampak:
Opportunity stagnan di stage Qualified → pipeline terlihat penuh tapi tidak bergerak.
Probability tetap 20% dan tidak ada progress ke tahap Proposal.
Customer merasa kurang diperhatikan → peluang bisa hilang ke kompetitor.
Dashboard pipeline menunjukkan potensi revenue Rp 150.000.000, tapi kenyataannya itu false hope.
Pelajaran:
Pipeline harus diperbarui harian dan setiap contact (seperti Andi) harus dihubungi sesuai SOP. Jika tidak, data CRM tidak merepresentasikan kondisi nyata.
Kasus 2 – Finance: Rina terlambat membayar invoice
Situasi:
Sales Order sudah dikonfirmasi, invoice INV/PT-SJA/001 sebesar Rp 166.500.000 diterbitkan dan dikirim ke Rina Kartika (Finance Supervisor). Namun, pembayaran melewati due date (30/09/2025).Dampak:
Status invoice tetap Open di modul Accounting → meningkatkan saldo piutang usaha.
Cash flow perusahaan terganggu karena dana Rp 166.500.000 belum masuk.
Laporan Accounts Receivable membengkak → risiko kredit meningkat.
Sales Manager perlu menindaklanjuti ke Finance agar komunikasi lebih intens dengan Rina.
Pelajaran:
Invoice harus ditindaklanjuti segera, dan jika pelanggan terlambat bayar, sistem Odoo bisa dipakai untuk mengirimkan payment reminder otomatis agar cash flow tetap sehat.
🎯 Kesimpulan Studi Kasus
Tidak follow-up kontak (Andi) → mengurangi efektivitas pipeline CRM dan menurunkan peluang closing.
Keterlambatan pembayaran (Rina) → berdampak langsung pada cash flow dan kesehatan finansial perusahaan.
Kedua kasus ini memperlihatkan bahwa CRM + Sales + Accounting harus berjalan selaras, dan setiap pengguna sesuai perannya harus konsisten dengan SOP agar data tidak hanya sekadar “ada di sistem”, tapi juga benar-benar mencerminkan kondisi bisnis.

